Tampilkan postingan dengan label ROHANI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ROHANI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Desember 2009

DIATUR OLEH TUHAN

“pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya” Amsal 31:26b

Untuk mempersatukan dua manusia sebagai suami isteri, Allah telah mengatur bahwa haruslah ada ketaatan dan kasih dalam rumah tangga mereka. Dia tidak meminta suami atau isteri mencari kesalahan masing-masing. Dia tidak menetapkan suami-suami untuk menjadi instruktur isteri-isteri, atau isteri-isteri untuk menjadi guru suami mereka. Seorang suami tidak perlu mengubah isterinya, demikian juga halnya dengan isteri. Bagaimanapun sifat dan keadaan pasangan hidupmu, hendaklah kau mengharap hidup dengannya selamanya. Mereka masing-masing harus belajar menutup mata akan kekurangan masing-masing. Mereka harus belajar mencintai, bukan mencoba mencari kesalahan masing-masing.

Sebagai orang Kristen kita harus belajar menyangkal diri. Menyangkal diri berarti melengkapi seorang terhadap yang lain. Keluarga butuh disiplin, berarti harus belajar mau menyisihkan pendapatnya sendiri dalam memberikan pertimbangan pasangan hidupnya. Pengajaran yang lemah lembut harus ada di lidah para isteri, baik terhadap anak-anaknya, maupun terhadap suami atau sesamanya.

Demikian pula sebagai mempelai Kristus, harus taat dan hidup setia kepada mempelai laki-laki, yaitu Kristus Yesus, tanpa mempedulikan keadaan dan situasi kita. Kita harus mempersembahkan kehidupan kita seutuhnya kepada Kristus, dan tidak hidup separuh buat ilah-ilah lain. Kata Tuhan, “Berpegangkah pada perintahKu, dan engkau akan hidup; simpanlah ajaranku seperti biji matamu” (Amsal 7:2)

Isteri yang cakap lebih berharga dari pada permata.

Senin, 07 Desember 2009

Catatlah!


Bacaan hari ini: Yosua 18:1-10
Ayat mas hari ini: Yosua 18:8
Bacaan Alkitab Setahun: Efesus 4-6

Biasakanlah menulis!” merupakan sebuah nasihat yang kerap kita dengar. Kegiatan mencatat atau menulis, kelihatannya sepele. Itu pelajaran yang sudah kita dapat sejak Sekolah Dasar. Namun, jangan diremehkan. Tulisan menyumbangkan perubahan sangat besar dalam diri dan kehidupan manusia—itu memberi perbedaan amat besar. Bayangkan jika Anda buta huruf pada zaman secanggih ini.

Apa istimewanya kegiatan menulis? Yosua tahu persis bahwa itu menolong orang untuk berubah. Dibanding di masa kepemimpinan Musa, nyatanya kehidupan bangsa Israel di masa kepemimpinan Yosua sungguh berbeda. Tadinya mengembara di gurun, sekarang menduduki tanah Kanaan. Akan tetapi, rupanya bangsa itu enggan mengubah cara hidupnya sesuai dengan kenyataan. “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas ...?” (ayat 3). Mereka malas berubah. Demi mendorong mereka berubah, Yosua menggunakan kiat “mencatat”. Mencermati, mengukur, menulis daftar, dan melaporkan. Pokoknya catat, catat, dan catat.

Dunia baca-tulis mengubah wajah dunia. Allah memberikan hukum tertulis di Sinai. Para Rasul dalam Perjanjian Baru membina jemaat melalui saurat-surat tertulis, yang kemudian dibacakan dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Reformasi gereja diiringi oleh penerjemahan Alkitab. Buku mendidik dan mengubah cara pandang orang. Banyak tokoh besar punya kebiasaan menulis buku harian. Tulisan menanamkan pengaruhnya ke mana-mana. Apalagi di era informasi ini. Minat dan kebiasaan baca-tulis sangat baik ditumbuhkembangkan. Termasuk bergaul dengan firman Tuhan lewat waktu teduh seperti saat ini.

Kerap membaca-menulis pasti mengubah sesuatu di diri kita. Tinggal apa yang kita baca dan seberapa sering?

Penulis: Pipi Agus Dhali

Kamis, 26 November 2009

Menyikapi Pujian


Bacaan hari ini: Galatia 5:16-26
Ayat mas hari ini: Galatia 5:25,26
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 19:11-20:1; 2 Korintus 1-3

Sepasang angsa bersiap meninggalkan danau yang airnya mulai mengering. Seekor kodok memohon untuk bisa ikut dengan mereka pindah ke danau lain. Namun, angsa bingung bagaimana cara membawa si kodok. Si kodok punya ide brilian, “Kalian gigit kedua ujung akar rumput ini, saya akan menggigit bagian tengahnya. Kemudian bawalah saya terbang.” Angsa setuju. Mereka pun terbang. Di angkasa, sekelompok burung memuji kecerdikan mereka dan bertanya, “Kalian sungguh cerdik, siapa yang punya ide secemerlang ini?” Si kodok menjawab dengan bangga, “Ide saya.” Saat itu terlepaslah gigitannya, ia pun jatuh ke bawah dan mati.

Pujian ibarat pedang bermata dua. Bisa produktif kalau kita sikapi dengan rendah hati; sebagai motivasi dan alasan untuk berbuat lebih baik. Akan tetapi, bisa juga kontraproduktif kalau kita sikapi dengan besar kepala; sebagai bentuk kemenangan dan kebanggaan diri. Maka, penting sekali menyikapi pujian dengan penguasaan diri. Tanpa penguasaan diri kita akan mudah dimabukkan oleh pujian. Mabuk pujian awal kehancuran. Seperti yang terjadi pada si kodok.

Penguasaan diri adalah bagian dari hidup yang dipimpin Roh. Sedangkan gila hormat dan mabuk pujian adalah bagian dari hidup yang dipimpin daging. Hidup yang dipimpin Roh berbuahkan hal-hal yang indah (ayat 22,23), sebaliknya hidup yang dipimpin daging berbuahkan hal-hal yang buruk (ayat 19-21). Seseorang yang menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan dagingnya (ayat 24). Itu berarti, ia juga harus selalu menguasai dirinya. Termasuk ketika menerima pujian.

TERIMALAH PUJIAN SEBAGAI PENGUATAN BAHWA KITA DAPAT MELAKUKAN HAL YANG MENYENANGKAN TUHAN DAN SESAMA

Selasa, 24 November 2009

Nama Baik


Bacaan hari ini: 1 Timotius 3:1-7
Ayat mas hari ini: 1Timotius 3:7
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Korintus 13-16

Pak Indra adalah anggota jemaat potensial. Pengalaman berorganisasinya luas, baik di tingkat lokal maupun nasional. Tak ayal lagi ia dicalonkan sebagai ketua panitia Natal. Namun, ada satu masalah. Banyak orang berkata, Pak Indra terlibat perbuatan amoral. Mereka tak bisa membuktikan perbuatan dosanya, tetapi bisa mencium gelagat yang tidak beres. Yang jelas, Pak Indra tidak lagi punya nama baik di lingkungannya. Bolehkah ia tetap dijadikan ketua panitia Natal, dengan asas “praduga tidak bersalah”?

Ketika Rasul Paulus menuliskan syarat menjadi pemimpin jemaat, ia memasukkan unsur “nama baik” (ayat 7). Pemimpin harus punya nama baik di masyarakat agar ia tidak digugat orang. Nama baik itu menyangkut citra dan penilaian orang terhadap diri kita. Memang penilaian orang tidak selalu tepat, tetapi sebuah citra buruk pasti melumpuhkan wibawa dan pelayanan kita. Pemimpin bercitra buruk bisa menjadi batu sandungan, bahkan merusak kesaksian gereja. Itu sebabnya Paulus meminta para pemimpin menjadi teladan dalam bertingkah laku (ayat 3), berkeluarga (ayat 2,4,5), dan bermasyarakat (ayat 7). Tidak cukup ia dinilai orang “tidak terbukti bersalah”. Ia harus benar-benar dinilai “terbukti tidak bersalah”. Tak bercela.

Punya nama baik bukan cuma penting bagi para pemimpin. Sebagai saksi Kristus, setiap orang kristiani juga harus mempunyai nama baik. Coba renungkan: apa kira-kira kesan orang-orang tentang kita? Sudahkah Anda punya nama baik di lingkungan Anda? Kalau belum, apa sebabnya? Lantas bagaimana memperbaikinya?

ORANG KRISTIANI TANPA NAMA BAIK BAGAIKAN BUNGA MELATI TANPA HARUM WANGI

Penulis: Juswantori Ichwan

Senin, 23 November 2009

Sayang Binatang Juga


Bacaan hari ini: Amsal 12:5-11
Ayat mas hari ini: Amsal 12:10
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Korintus 9-12

William Wilberforce (1759-1833) dikenal sebagai tokoh yang menyerukan penghapusan perbudakan di Inggris. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan mendukung misi penginjilan ke India. Seakan belum cukup, rupanya ia prihatin juga terhadap “perbudakan” binatang. Ia menentang tontonan anjing lawan banteng dan ikut mendirikan kelompok penyayang binatang. Film biografinya, Amazing Grace, dibuka dengan adegan yang menunjukkan sikap welas asihnya terhadap binatang itu. Ia menghentikan seorang sais kereta yang sedang menyepak dan mencambuki kudanya yang tergelincir karena kelelahan.

Kepedulian terhadap binatang sejatinya salah satu ciri orang benar. Ketika menguraikan beberapa kontras antara orang benar dan orang fasik, Salomo sengaja mencantumkan perhatian pada hewan sebagai salah satu contohnya. Tentu ia tidak sekadar iseng. Ia pasti membaca kitab Taurat. Peraturan hari Sabat, misalnya, bukan hanya berlaku bagi manusia, tetapi juga kesempatan beristirahat bagi binatang (Keluaran 23:12). Hewan juga tidak boleh dipekerjakan secara berlebihan (Ulangan 25:4). Salomo tentu juga menyimak kisah Bileam, yang dihardik Tuhan karena membangkang dan mencambuki keledainya secara bengis (Bilangan 22:21-33).

Binatang memang tidak memiliki martabat yang seluhur manusia. Tetapi, justru karena manusia bermartabat lebih tinggi, ia bertugas melindungi binatang sesuai dengan peraturan Tuhan. Menyayangi binatang, jadinya, termasuk ibadah juga. Jangan sembrono memperlakukan binatang peliharaan, ternak, atau hewan liar yang memerlukan perlindungan.

KALAU TUHAN SAJA BEGITU PEDULI PADA NASIB BINATANG, SUDAH SEMESTINYA ORANG BENAR MENURUTI TELADAN-NYA

Penulis: Arie Saptaji

Minggu, 22 November 2009

T-H-I-N-K


Bacaan hari ini: Yakobus 3:1-12
Ayat mas hari ini: Yakobus 3:2
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Korintus 5-8

Berpuluh tahun lalu, seorang pengajar di sebuah sekolah pendidikan guru di Jakarta menasihati para muridnya agar memutar lidah tiga kali dalam mulut sebelum mengucapkan sesuatu jika sedang marah. Maka, akan terjadi sesuatu yang lucu di mulutnya, sehingga ia terhindar dari berkata-kata kasar. Menurut si pengajar, itu adalah pengalaman pribadinya. Dulu sebelum mempraktikkannya berulang kali, ia mengaku sebagai orang yang pemarah.

Ketika kita sedang marah, mulut kita dapat mengeluarkan perkataan yang kasar hanya demi melampiaskan kemarahan tersebut. Padahal sesungguhnya perkataan kasar tak meredakan kemarahan, tetapi justru menyulut api kemarahan itu lebih besar lagi. Itu sebabnya Yakobus dengan tegas meminta supaya kita mengendalikan setiap perkataan yang diucapkan oleh lidah. Memasangkan “kekang” pada lidah—sebagaimana kuda (ayat 3), agar khususnya ketika sedang marah, kita tetap mengawasi setiap hal yang terucap. Apalagi, siapa pun kita, sesungguhnya merupakan “guru” atas orang-orang di sekeliling kita (ayat 1). Panutan bagi orang lain.

Sebuah pesan praktis pernah saya dapatkan dari seorang hamba Tuhan yang mengajarkan tentang think (berpikirlah), setiap kali berbicara. Yakni sebuah rangkaian langkah untuk menguji perkataan kita: Is it True? (apakah benar?); Honorable? (apakah patut dihargai?); Inspiring? (apakah menginspirasi orang lain?); Necessary? (apakah perlu?); dan Kind? (apakah baik?). Biarlah setiap perkataan kita berkenan kepada Tuhan. Dan tidak mengucapkan apa yang tak perlu tidak kita ucapkan.

WASPADALAH DENGAN SETIAP UCAPAN SEBAB IA BERKUASA MENGHIDUPKAN DAN MEMATIKAN

Selasa, 17 November 2009

Salam Kutukan


Bacaan hari ini: 1 Korintus 16:19-24
Ayat mas hari ini: 1 Korintus 16:22
Bacaan Alkitab Setahun: Galatia 4-6

Berbeda dengan surat-surat Paulus yang lain, surat Paulus kepada jemaat di Korintus ditutup oleh salam yang bernada keras, “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.” Ada apa dengan Paulus dan jemaat di Korintus hingga ia menulis kata-kata yang keras dalam suratnya? Mari kita simak latar belakangnya sejenak.

Jemaat Korintus sesungguhnya adalah jemaat yang luar biasa. Mereka adalah jemaat yang pernah dilayani oleh hamba-hamba Tuhan yang luar biasa (1:12) dan juga jemaat yang anggotanya memiliki berbagai macam karunia rohani. Namun sayang, hal itu tidak membuat gereja ini bersatu padu dalam melayani Tuhan; malah menimbulkan perpecahan di dalam tubuh gereja. Perpecahan itu sangat tajam, sehingga masing-masing kelompok menganggap dirinya paling penting dan hebat. Bak seorang dokter yang mendiagnosis penyakit, Paulus menyatakan bahwa penyebab dari perpecahan jemaat di Korintus adalah hilangnya kasih akan Tuhan di tengah-tengah mereka. Mereka lebih mengasihi diri sendiri daripada Tuhan. Itulah Paulus. Menyatakan secara tegas nasihatnya. Ia mau supaya mereka lebih mengasihi Tuhan.

Mengasihi Tuhan seharusnya menjadi tujuan hidup manusia—termasuk ketika kita memakai segala kemampuan, bakat, atau karunia yang kita miliki. Ketika kita kehilangan tujuan ini, hasilnya adalah keangkuhan. Ketika ada keangkuhan dalam komunitas. hasilnya adalah perpecahan. Jadi, marilah kita kembalikan tujuan hidup kita kepada tujuan yang sebenarnya, yaitu mengasihi Tuhan!

DIA HARUS SEMAKIN BERTAMBAH, AKU HARUS SEMAKIN BERKURANG

Penulis: Riand Yovindra

Senin, 16 November 2009

Iman yang Dewasa


Baca: Daniel 3:1-30
Ayat Mas: Daniel 3:18
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 18-21

Untuk apa Anda beriman? “Supaya saya mengalami mukjizat Tuhan”, “Supaya setiap kali berdoa, Tuhan mengabulkan doa saya”, “Supaya Tuhan senantiasa menjaga dan melindungi saya dari bahaya”, “Supaya kalau mati saya masuk surga.” Ungkapan-ungkapan tersebut kedengarannya sangat baik. Namun, sebetulnya itu mencerminkan pendangkalan makna. Kalau kita bekerja supaya mendapatkan upah, itu wajar. Akan tetapi, kalau kita beriman supaya mendapatkan apa-apa yang kita inginkan, itu menunjukkan iman yang tidak tulus, berpamrih, dan kekanak-kanakan.

Iman yang dewasa—seperti juga cinta yang dewasa—selalu berarti tanpa syarat, tanpa pamrih. Bukan supaya; supaya mendapat ini dan itu yang kita mau, tetapi walaupun; walaupun hidup tidak berjalan seperti yang kita harap. Iman yang dewasa ini ditunjukkan oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Ketika Raja Nebukadnezar membuat patung emas besar dan memerintahkan semua orang yang hidup di wilayahnya untuk menyembah patung itu, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menolak mengikuti perintah tersebut.

”Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu,” begitu mereka menjawab (ayat 16-18). Akibatnya, mereka harus berhadapan dengan hukuman. Akan tetapi, toh Tuhan tidak meninggalkan mereka.

IMAN YANG DEWASA TIDAK TERGANTUNG PADA SITUASI DAN KONDISI

Penulis: Ayub Yahya

Kapok


Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 14:19-28
Ayat mas hari ini: Filipi 3:13
Bacaan Alkitab Setahun: Galatia 1-3

Anda pernah kapok melakukan sesuatu? Kapok bisa baik, bisa juga buruk. Kapok yang baik berkenaan dengan perilaku buruk. Misalnya, kapok merokok karena pernah opname di rumah sakit terkena radang tenggorokan akut. Atau, kapok kebut-kebutan naik sepeda motor, karena pernah kecelakaan. Sedangkan kapok yang buruk berkenaan dengan perilaku baik. Misalnya, kapok melayani di gereja karena pernah dikecewakan; kapok membantu orang lain karena pernah disalahartikan; atau kapok menyatakan cinta karena pernah ditolak mentah-mentah.

Kapok yang buruk inilah yang harus kita hindari. Sebab untuk melakukan hal-hal baik tidak boleh ada kata kapok. Suatu kali Paulus tengah melakukan perjalanan pekabaran Injil ke kota Listra. Diluar dugaan, sekelompok orang Yahudi mendatangi dan menganiayanya. Begitu parah sampai-sampai orang banyak menyangkanya telah mati (ayat 19). Tidak disebutkan berapa banyak luka-luka yang dideritanya, tetapi kita bisa membayangkan betapa parah dan menderitanya Paulus.

Kapokkah Paulus? Ternyata tidak. Keesokan harinya ia bangkit dan melanjutkan perjalanan (ayat 20). Apa rahasia ketegaran dan keteguhan Paulus? Dalam Filipi 3:13 ia menulis, ”Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.” Ya, Paulus tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam luka dan kepahitannya di masa lalu. Sebaliknya ia mengarahkan diri kepada ”apa yang dihadapannya”, yaitu visi hidupnya untuk memberitakan Injil kepada sebanyak mungkin orang. Dan ia lalu fokus kepada panggilannya itu. Karenanya ia tidak pernah kapok. Tetap tegar dan teguh.

DUA SIKAP YANG BISA MEMBUAT ORANG TIDAK MAJU: TIDAK BERBUAT APA-APA DAN KAPOK BERBUAT SESUATU

Penulis: Ayub Yahya

Dilihat: 978 x

Kamis, 29 Oktober 2009

Adorasi Abadi Keuskupan Surabaya






Home   Tentang PUSPITA   Hubungi Kami








Rumah Adorasi Abadi Pusat Spiritualitas Keuskupan Surabaya
Jl. Dharmahusada Permai XII/5; Blok N-403 SBY
Telp. (031) 5935656
Web : www.adorasiabadi.com
Email : adorasiabadi@gmail.com
Pemberkatan : 08 Desember 2006

Buka 24 jam selama 7 hari


Kapel Adorasi Abadi "RKZ"
Jl. Diponegoro 51 SURABAYA
Telp. (031) 77514800
PEMBUKAAN 13 MEI 2006

Buka 24 jam selama 7 hari


Rumah Adorasi Abadi "Hati Kudus Yesus"
Jl. Polisi Istimewa 15 Surabaya
Telp. (031) 5677845
PEMBUKAAN: 08 September 2009

Buka 24 jam selama 7 hari


Rumah Adorasi Abadi "Griya Palereman Manah"
Jl. Diponegoro 40-42 Blitar
Telp. 081555644331
PEMBUKAAN 28 Oktober 2008

Buka 24 jam selama 7 hari


Rumah Adorasi "Redemptor Mundi"
Jl. Dukuh Kupang Barat I/7 SURABAYA
Telp. (031) 5674137

Buka 24 jam selama 7 hari


Rumah Adorasi "Aloysius Gonzaga"
Jl. Satelit Indah I/IN 17-18 SURABAYA
Telp. (031) 7347040

Buka jam 06.00-22.00;

kecuali Sabtu-Minggu & Hari Libur TUTUP



Rumah Adorasi ABADI par. St. YUSUP JEMBER (Keuskupan Malang)
Jln. Kartini 26 Jember 68137; Tel.: +62-331-486478;
Email Address: styusupjember@gmail.com
PEMBUKAAN : 22 Februari 2009

Buka 24 jam selama 7 hari





"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam percobaan;
roh memang penurut tetapi daging lemah" (Matius 26:41)












@ 2007 : Adorasi Abadi : PUSPITA :: Pusat Spiritualitas Keuskupan Surabaya



Minggu, 18 Oktober 2009

Novena Hati Kudus Yesus


( DOA NOVENA TAK PERNAH GAGAL )

Untuk menyebarluaskan devosi ini kepada Hati Kudus Yesus, buatlah salinan dan distribusikan lembaran doa ini.
Belum pernah terdengar bahwa novena ini gagal.
Didoakan pada saat masalah datang atau apabila seseorang tampak kehilangan semua bantuan yang ada. Khususnya buat masalah yang hampir tidak ada jalan keluarnya. Doa ini akan dijawab pada hari ke-9 atau sebelumnya dan belum pernah gagal. Bacalah / ucapkan doa ini di gereja setiap hari selama 9 hari berturut2 pada jam-jam yang sama, nyalakan sebatang lilin di gereja setiap hari dan tinggalkan 9 lembar salinan/copy doa ini di gereja setiap harinya.
Belum pernah terjadi novena ini gagal.
Anda akan menerima intensi anda sebelum hari ke-9 berlalu, tidak peduli bagaimana mustahilnya doa anda akan dijawab.

TANDA SALIB
Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin

SYAHADAT IMAN
Aku percaya akan Allah, Bapa yang Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi.
Dan akan Yesus Kristus , Putera-Nya yang tunggal, Tuhan kita.
Yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh perawan Maria
Yang menderita sengsara dalam pemerintahan Ponsius Pilatus, disalibkan, wafat dan dimakamkan.
Yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati.
Yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Maha Kuasa.
Dari situ Ia akan datang, mengadili orang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang Kudus, Persekutuan Para Kudus, Pengampunan dosa, Kebangkitan badan, Kehidupan kekal. Amin


NOVENA KEPADA HATI KUDUS YESUS
(Novena ini dilakukan setiap hari 9 kali berturut-turut pada jam-jam yang sama)

Ya Yesus, Engkau berkata:
“ Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu”
Dengan perantaraan Maria Bunda-Mu tersuci, aku memanggil Engkau, aku mencari dan memohon kepadaMu. Untuk mendengarkan permohonanku ini...........................................
(sebutkanlah permohonan dan karunia Bapa yang anda butuhkan)

Ya Yesus, Engkau berkata:
“ Apa saja yang kau minta kepada Bapa-Ku dengan namaKu, Dia akan memberikannya kepadamu”.
Aku memohon dengan rendah hati dan penuh kepercayaan dari Bapa surgawi dalam nama-Mu, dengan perantaraan Maria Bunda-Mu tersuci, untuk mengabulkan permohonanku ini......................................................
(sebutkanlah permohonan dan karunia Bapa yang anda butuhkan)

Ya Yesus, Engkau berkata:
“ Langit dan bumi akan musnah, tetapi sabda-Ku tidak akan musnah “.
Dengan perantaraan Maria Bunda-Mu tersuci, aku percaya bahwa permohonanku akan dikabulkan ......................................................
(sebutkanlah permohonan dan karunia Bapa yang anda butuhkan)

Yesusku, Tuhan jiwaku, Engkau berjanji bahwa Hati Kudus-Mu akan menjadi laut kerahiman bagi orang-orang yang berharap kepadaMu. Aku sungguh percaya bahwa
Engkau akan mengabulkan apa yang aku minta, walaupun itu memerlukan mujizat. Pada siapa aku akan mengetuk kalau bukan kepada Hati-Mu.
Terberkatilah mereka yang berharap padamu, ya Yesus, aku mempersembahkan kepada Hati-Mu, Penyakit ini.......... Jiwa ini.......... Permohonan ini..............
Pandanglah dan buatlah apa yang Hati-Mu kehendaki.

Ya Yesus, aku berharap padaMu dan percaya kepada-Mu. Aku mempersembahkan diriku, di dalam Engkau aku merasa aman.

Lanjutkan dengan 1 kali:
Doa Bapa Kami
Salam Maria
Kemuliaan

Hati Kudus Yesus, aku berharap pada-Mu…
(ucapkan dan ulangi 10 kali dengan penuh semangat)

Ya Yesus yang baik, Engkau berkata:
“ Jika engkau hendak menyenangkan Daku, percayalah kepada-Ku.
Jika engkau hendak lebih menyenangkan Daku, berharaplah pada-Ku selalu “
Pada-Mu Tuhan, aku berharap agar aku tidak binasa selamanya. Amin

DOA KEPADA HATI KUDUS YESUSYa Tuhan, aku berdoa, agar di rumahku ada damai, ketenangan dan kesejahteraan di dalam naungan-Mu. Berkatilah dan lindungilah usahaku, pekerjaanku dan semua yang Kau serahkan kepadaku, segala keinginanku.

Usirlah nafsu dari dalam hatiku, rencana palsu dan pikiran jahat. Tuangkanlah di dalam hatiku, cinta kepada sesama dan anugerahkanlah kepadaku, semangat penyerahan yang teguh, teristimewa pada saat kemalangan, agar supaya aku bangun dari kebimbangan.

Ya Tuhan, bimbinglah dan lindungilah hidupku dari bahaya-bahaya dan ketidak-tentuan dunia.

Jangan lupa, ya Yesusku, orang-orang yang kukasihi, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal yang menyebabkan kesedihan kami, tetapi kami masih dihibur oleh ketaatan mereka waktu mereka masih hidup, sehingga Engkau tidak menyerahkan mereka kepada maut. Kasihilah mereka Tuhan, dan bawalah mereka kepada kemuliaan surgawi. Amin.


TANDA SALIB
Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Dapatkan bookletnya di sini.

Doa Novena dan Refleksi Menyongsong Perkawinan

Hari Pernikahan adalah hari istimewa yang Anda berdua menantikan. Aneka persiapan tentu Anda lakukan mulai dari kursus perkawinan, penyeledikan kanonik, sampai urusan resepsi perkawinan. Namun tak kalah pentingnya adalah persiapan batin untuk merayakan Sakramen Perkawinana dimana Anda berdua akan saling mengucapkan janji setia selamanya.

Apa itu Novena? oleh: Romo William P. Saunders *


Dalam artikel yang terakhir disinggung mengenai Novena bagi Arwah Semua Orang Beriman. Saya ingat, ibu saya biasa mendaraskan bermacam doa novena. Dapatkah dijelaskan asal-mula novena dan perannya dalam Gereja pada masa sekarang?
~ seorang pembaca di Springfield

Singkatnya, novena adalah doa pribadi atau doa bersama selama sembilan hari berturut-turut yang dipanjatkan guna mendapatkan suatu rahmat khusus, memohon suatu karunia khusus atau menyampaikan suatu permohonan khusus. Novena berasal dari kata Latin “novem” yang artinya “sembilan”. Seperti tampak dalam definisi di atas, novena selalu menyiratkan adanya kepentingan yang mendesak.

Dalam liturgi Gereja, novena dibedakan dari oktaf, yang sifatnya lebih pada perayaan, entah sebelum atau sesudah suatu pesta penting. Misalnya, dalam penanggalan liturgi Gereja, kita merayakan Oktaf sebelum Natal, di mana pendarasan antifon “O” membantu kita mempersiapan diri menyambut kelahiran Juruselamat kita. Kita juga merayakan Oktaf Natal dan Paskah, yang meliputi hari pesta itu sendiri dan tujuh hari sesudahnya, guna menekankan sukacita misteri-misteri yang dirayakan.

Sulit ditentukan dengan tepat, asal mula novena sebagai bagian dari harta rohani Gereja. Perjanjian Lama tidak mencatat adanya perayaan selama sembilan hari di kalangan bangsa Yahudi. Sebaliknya, dalam Perjanjian Baru, pada peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus, Tuhan memberikan Perutusan Agung kepada para rasul, dan kemudian menyuruh mereka untuk kembali ke Yerusalem dan menunggu datangnya Roh Kudus. Dalam Kisah Para Rasul dicatat, “Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” (Kis 1:12, 14). Sembilan hari sesudahnya, Roh Kudus turun atas para rasul pada hari Pentakosta. Kemungkinan, “periode doa sembilan hari” yang dilakukan oleh para rasul inilah yang menjadi dasar dari doa novena.

Jauh sebelum kekristenan, bangsa Romawi kuno juga mempraktekkan doa selama sembilan hari demi berbagai macam kepentingan. Penulis Livy mencatat bagaimana doa sembilan hari itu dirayakan di Gunung Alban guna menolak bala atau murka para dewa seperti yang diramalkan oleh para tukang tenung. Begitu pula, doa sembilan hari dipersembahkan apabila suatu “hal baik” diramalkan akan terjadi. Keluarga-keluarga juga menyelenggarakan masa duka selama sembilan hari atas kematian orang yang dikasihi dengan suatu perayaan khusus sesudah pemakaman yang dilakukan pada hari kesembilan. Pula, bangsa Romawi merayakan parentalia novendialia, suatu novena tahunan (13-22 Februari) guna mengenangkan segenap anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Karena novena telah merupakan bagian dari budaya Romawi, ada kemungkinan umat Kristiani “membaptis” praktek kafir ini.

Apapun yang mungkin merupakan asal mula novena, di kalangan umat Kristiani perdana memang sungguh ada masa berkabung selama sembilan hari atas meninggalnya seseorang yang dikasihi. Maka, pada akhirnya, dipersembahkanlah suatu Misa novena bagi kedamaian kekal jiwa. Hingga sekarang, terdapat praktek novendialia atau Novena Paus, yang dilaksanakan apabila Bapa Suci berpulang, seperti yang kita saksikan saat wafatnya Paus Yohanes Paulus II yang terkasih.

Pada Abad Pertengahan, terutama di Spanyol dan Perancis, doa novena biasa dipanjatkan sembilan hari menjelang Natal, melambangkan sembilan bulan yang dilewatkan Tuhan kita dalam rahim Santa Perawan Maria. Doa novena khusus ini membantu umat beriman mempersiapkan diri merayakan dengan khidmad kelahiran Tuhan kita. Lama-kelamaan berbagai macam novena disusun guna membantu umat beriman mempersiapkan diri menyambut suatu pesta istimewa atau guna memohon pertolongan seorang kudus dalam suatu masalah tertentu. Beberapa novena populer yang secara luas biasa didaraskan di Gereja kita adalah Novena Medali Wasiat, Novena Hati Kudus Yesus, Novena Roh Kudus, Novena St Yosef, Novena St Yudas Tadeus, dan lain sebagainya.

Cukup sulit mengatakan mengapa kita tidak mendaraskan novena dalam ibadat bersama sesering sebelum Konsili Vatikan II. Saya pernah menanyakan hal ini kepada seorang imam senior, yang pada intinya mengatakan bahwa cukup banyak orang yang ikut ambil bagian dalam doa novena, tetapi melewatkan Misa Kudus. Padahal, sebagai umat Katolik, fokus terutama dalam spiritualitas dan sembah sujud bersama adalah Ekaristi dan Misa Kudus.

Juga, sebagian orang saya pikir telah menyelewengkan novena dengan takhayul. Di setiap paroki di mana saya pernah ditugaskan, selalu saja saya menemukan salinan Novena St Yudas Tadeus yang pada dasarnya menyatakan bahwa jika orang pergi ke Gereja selama sembilan hari berturut-turut dan meninggalkan salinan Novena St Yudas Tadeus, maka doanya akan dikabulkan - semacam surat berantai rohani; bagaikan mesin Katolik otomatis saja: seperti orang memasukkan uang ke dalam mesin penjual, lalu menekan tombol untuk mendapatkan cola yang diinginkannya; dalam hal ini orang mendaraskan doa-doa, pergi ke gereja, meninggalkan salinan doa, dan beranggapan bahwa dengan demikian doanya pastilah dikabulkan. Yang menyedihkan sekarang ini adalah orang bukan, setidak-tidaknya menyalin dengan tangan, melainkan sekedar memfotokopinya, dan yang terlebih parah, biasanya sayalah yang harus membereskan lembaran-lembaran doa ini yang ditinggalkan dan tercecer di seluruh ruang Gereja.

Walau demikian, novena masih mendapat tempat yang sah dan benar dalam spiritualitas Katolik. Dalam buku Pedoman Indulgensi tertulis, “Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang dengan tekun ikut ambil bagian dalam praktek saleh novena bersama yang diadakan sebelum perayaan Natal, atau Pentakosta, atau Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa.” Di sini, sekali lagi Gereja menekankan bahwa novena merupakan suatu praktek rohani yang saleh, yang memperteguh iman individu dan hendaknyalah individu sungguh tekun, dengan selalu mengingat kebajikan Tuhan yang senantiasa menjawab semua doa-doa kita menurut kehendak ilahi-Nya.